Kemarin sore, pas dimulainya takbiran Idul Adha, aku merasakan sakit di perut. Aku tidak dapat buang air besar karena begitu susah. Aku pun menangis terus. Kuma, Yangti dan Bu De Novi pun mencoba mendiamkanku. Mereka akhirnya tahu penyebab nangisku. Aku didiagnosa sembelit!
Kuma langsung memanggil Kupa yang saat itu ada di lantai atas. Dengan sigap Kupa pun turun dan langsung menanyakan ada apa. Setelah beberapa saat, aku pun digiring Kuma dan Kupa ke dalam kamar. Yangti menyusul tidak lama kemudian. Yangti dan Kuma langsung melucuti popok yang kukenakan. Tiba-tiba Yangti menusukkan sesuatu ke lubang pantatku. Rupanya itu adalah sabun yang telah diraut oleh Yangti dan katanya berguna untuk melicinkan pantatku dan membuka sedikit pantatku agar aku lebih mudah buang air besar.
Setelah Yangti menusukkan sabun tersebut, aku merasakan rasa yang aneh dan merasa kesakitan. Aku pun menangis dan aku ditenangkan oleh Yangti dengan melihat kucing di luar rumah. Tidak lama aku pun tertidur di gendongan Yangti.
Tengah malamnya, rasa ingin buang air besar kembali menghinggapi diriku. Aku pun menangis dan Kuma langsung mengelus-elus perutku. Sekitar setengah jam setelah itu aku pun mulai dapat mengeluarkan air besar yang dari sejak sore aku nantikan. Kuma dan Kupa tahu aku buang air besar karena ada bau tidak sedap di ruangan kamarku.
Langsung saja kedua orang tuaku membawaku ke kamar mandi. Kupa membuka popokku. Kuma pun langsung mendudukkanku di WC dan menyiram air serta mencebok pantatku. Kata Kupaku kotoranku bentuknya seperti batu, dia pun maklum jika aku meringis terus selama setengah jam sebelumnya.
Setelah itu aku pun dihandukkan oleh Kuma dan juga popokku digantikan. Lalu aku dibawa kembali ke kamar untuk tidur karena masih tengah malam saat itu. Tidak lama aku pun tertidur, tentu dengan perasaan lega setelah mampu mengeluarkan kotoran yang cukup keras tersebut.