Saat aku berada di kamar Yangti, Mbak Yumna dan Mbak Kamila sedang bertengkar memperebutkan Ipod Kumaku untuk main game yang ada di gadget tersebut. Aku hanya dapat melihat keduanya bertengkar bersama di dalam kamar. Ketika pertengkarannya semakin hebat dan kamar dipenuhi sesak oleh suara keduanya, aku pun mulai gerah. Langsung saja aku menangis sekeras-kerasnya karena tidak kuat mendengar keributan yang ditimbulkan oleh Mbak Yumna dan Mbak Kamila.
Mendengar tangisku dari ruangan lain, Yangti pun langsung memisahkan pertengkaran Mbak Yumna dan Mbak Kamila, lalu menggendongku untuk menenangkanku. Saat Yangti berusaha menenangkanku, aku pun mulai mengadu kepada Yangti apa yang terjadi barusan. Karena ocehannya masih belum dimengerti Yangti, Yangtipun hanya tertawa mendengarkan pengaduanku.
Kata Yangti, aku sudah mulai dapat mengeluarkan ekspresiku, walaupun belum ada orang yang mengerti apa yang kumaksud. Yang pasti, aku tidak suka melihat kedua kakak-kakakku bertengkar di hadapanku, karena suara keduanya sangat menggangu diriku yang sedang beristirahat tenang di kamar Yangti.
Mbak Yumna dan Mbak Kamila, jangan bertengkar lagi ya!