Sabtu kemarin aku dibawa Kupa dan Kuma ke dokter untuk imunisasi. Aku ke rumah sakit dekat rumah dan menurut Kumaku dapat nomor urut delapan. Kami datang sekitar pukul 10.20 pagi. Ketika mendaftar ke loket pendaftaran, namaku tidak ada di daftar nomor urut. Sehingga kami harus menunggu lebih lama lagi karena aku akhirnya berada di nomor urut 28.
Kupaku sudah melancarkan protes ke rumah sakit tersebut dan akhirnya memberikan laporan tertulis kepada rumah sakit tersebut mengenai kronologis yang menimpaku. Untungnya Kupa dan Kuma berhasil menemukan tempat yang enak bagiku untuk menunggu. Sambil menunggu Kumaku memainkan Ipad 2 barunya. Kupa lebih sering menggendongku. Dia sepertinya menikmati menggendongku seperti aku menikmati digendong olehnya.
Menurut Kupa dan Kuma, selama menunggu, aku tidak sekalipun merengek. Jadi mereka sangat senang melihat tingkahku yang baik. Bahkan Kupa memujiku sebagai anak pintar karena memang aku nurut sekali saat itu.
Setelah menunggu satu setengah jam, akhirnya aku pun dipanggil untuk menghadap sang dokter. Aku diimunisasi langsung di ruang dokter walaupun menurut jadwal imunisasiku terlambat sekitar dua minggu. Kumaku menyadari kealpaannya dan akan berusaha agar aku tidak lagi telat untuk diimunisasi.
Sekali lagi Kuma memujiku karena ketika disuntik imunisasi aku tidak sekalipun menangis. Dokternya pun dengan cepat menusuk pahaku, memasukkan cairan imunisasinya dan mencabut kembali. Mungkin kalau dihitung tindakan dokter itu hanya kurang dari dua detik sehingga aku pun tidak merasakan sakit. Kumaku langsung takjub dengan cara dokter itu menyuntik dan akan kembali lagi untuk kontrolku berikutnya.
Sekitar pukul 2 siang aku pun sudah sampai lagi di rumah. Kumaku sangat senang melihatku pintar dan tidak nangis hari itu. Bulan depan ke dokter lagi untuk kontrol.